Jumat, 17 Oktober 2014

hati senja

Mentari menutup mata dunia
Mega yg membarat memerah diujung kota
tak terlihat dan tak berdaya
kini aku diujung senja hati
   terukir indah kenganan rindu
   hati berbisik seolah ragu
   langkah layu nan ingin bertemu
   pada mereka aku berbakti padamu
Kau teteskan jiwa itu padaku
Kau beri tiupan harapan
Jiwa kau sirami karunianya
Patut aku berbakti untuk mu
   Kini remaja mulai dewasa
   Beralaskan kata dan tauladan mu
   Hidup dia sebatang kara
   Menepis badan nan ombak terjal

Ayah. . .
Ibu. . .
maaf aku anakmu.

Berpamit ku izin ke jalan mu, namun lika-liku membuatku terjebak dalam nafsu yg kini membawaku dalam kesalahan. bertahan atau berserah, smua adalah tanggung jawab masa lalu.
namun, apa harus ku gadai masa depanku pada kesalahan masa lalu itu. ?

kini begitu banyak hati harus ku pikul. ketupusan adalah untuk bersama. dan aku ingn berakhir tanpa kata. senyumlah untuk semua ini. aku ragu dan aku akan akhiri kesalahan ini. aku punya masa depan. dan tak akan ku gadai untuk yg tak dapat . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar